Jabat Kapolres Lubuk Linggau, Ternyata AKBP Arissandi Kantongi Segudang Prestasi

NASIONAL26 Dilihat

PALEMBANG – Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo melakukan rotasi jabatan para perwira Polri, salah satunya dijajaran wilayah hukum Polda Sumatera Selatan. Salah satu yang menjadi sorotan adalah Kapolres Lubuklinggau AKBP Harissandi.

 

Melansir Riwayat Hidup Pamen Polri, Senin (14/2/2022), Pamen Polri lulusan Akpol 2000 ini sebelumnya menjabat sebagai Kasubdit III Ditreskrimsus Polda Sumsel. Dia mendapatkan promosi jabatan menjadi Kapolres Lubuklinggau Polda Sumatera Selatan sesuai dengan Surat Telegram Rahasia Kapolri dengan nomor ST/165/I/KEP/2022, tanggal 24-1-2022, AKBP Harissandi menggantikan AKBP Nuryono.

 

 

 

AKBP Harissandi merupakan kelahiran Surabaya, pada 23 Maret 1978. Setelah lulus Pendidikan Sespimmen dengan predikat ranking 20 besar, AKBP Harissandi mendapatkan penempatan di Polda Sumsel.

 

 

 

Saat penempatan di Polda Sumsel, AKBP Harissandi ditugaskan langsung untuk diperbantukan di daerah Polda Aceh selama setahun. Kemudian, setahun di Aceh, ia berhasil banyak menorehkan prestasi pengungkapan tindak kejahatan narkoba dengan barang bukti yang sangat kuat.

 

 

 

Berikut beberapa pengungkapan tindak kejahatan narkoba yang berhasil dilakukan AKBP Harissandi pengungkapan 15 hektar ladang ganja. Harissandi juga berhasil menangkap pelaku narkoba dengan barang bukti 33 kilogram sabu-sabu.

 

 

 

Sementara pada tahun 2020, AKBP Harissandi berhasil mengungkap narkoba dengan barang bukti 60 kilogram sabu-sabu. Dan mengungkap kasus narkoba dengan barang bukti 81 kilogram sabu serta 100 ribu butir ekstasi.

 

 

 

Atas prestasinya tersebut, ia terbukti mampu menjalankan amanat Pimpinan Polri. Selain itu, sebelum mengikuti Pendidikan Sespimen Polri, ia juga memiliki beberapa prestasi dalam bidang Tindak Pidana Siber atau menjadi Kasubdit Siber Polda Jatim pada tahun 2018.

 

 

 

 

 

Selanjutnya, selama menjabat sebagai Kasubdit Siber Polda Jatim, AKBP Harissandi berhasil menangani beberapa kasus yang mendapat perhatian publik. Seperti kasus ujaran kebencian Gus Nur atau dikenal Sugik Nur yang diketahui pada waktu itu menghina Nahdlatul Ulama (NU), serta pengungkapan kejahatan siber internasional yang akhirnya diganjar penghargaan dari Kedutaan Konjen Amerika. (Feri Projo).

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *